Persahabatan

Hidup ini memang terlalu keras untuk diarungi seorang diri. Itulah sebabnya mengapa keberadaan seorang sahabat menjadi begitu membahagiakan. Bagi saya, persahabatan bukan soal kemana pun pergi selalu bersama-sama, bukan sekedar soal menemani dalam tangis dan bahagia. Apalagi, sekedar tidak ada rahasia sekecil apapun yang saling disembunyikan. Juga bukan sekedar bertukar password sosmed hingga masing-masing tak memiliki privacy. Bukan, bukan itu! Meski ada sebagian yang mengartikan demikian.

Bagi saya, persahabatan adalah soal hati. Soal ketulusan dan keihklasan untuk bersama-sama berjalan bergandengan tangan. Bukan bergandengan tangan secara denotatif tentu saja. Saya memiliki dua sahabat yang super hebring. Saya lupa sejak kapan kami bersahabat seerat ini. Mungkin sejak kami sama-sama menjadi tiang di salah satu organisasi mahasiswa, mungkin juga setelah kami melakukan perjalanan bersama ke Ibu Kota.Entahlah.

Kami tidak memiliki jadwal khusus untuk menghabiskan waktu bersama dan berbagi cerita. Ya, tiga orang yang terlampau berbeda dalam selera dan cita-cita, juga kesibukan pribadi. Persahabatan itu tentang hati, tentang rasa. Saat saya bersama dengan mereka, saya merasa entah mengapa jam berlalu begitu cepat. Saya nyaman bersama mereka melebihi nyaman saya bersama keluarga kandung. Tentang rasa, tentang cinta. Saya merasakan kebahagiaan yang sama meluapnya ketika sahabat saya mendapat kesempatan untuk belajar di Amerika. Saya merasakan letupan semangat yang sama ketika sahabat saya dengan aktivitas sosialnya berkesempatan untuk diliput di sebuah stasiun TV yang sudah punya nama. Begitu pun saya merasakan sesak yang sama saat air mata mereka menderas di antara kesedihan yang dirasakannya.

Kami tetap bersahabat meski kini kami tak bisa sesering dulu menghabiskan waktu bersama. Cinta kamu tetap sama meski kami tetap saja tidak saling bertukar password sosmed atau selalu muncul beramai-ramai mengomentari status fb atau tweet salah satu dari kami. Masing-masing kami tau cara untuk terus menghangatkan rasa ini. Kami berusaha mencari tahu kondisi masing-masing dengan cara kami masing-masing. Kami tidak selalu meminta atau memaksa masing-masing dari kami untuk bercerita ketika sedang dalam titik nestapa hidupnya. Tidak. Saya membiarkan teman saya yang saat itu menangis bukan karena saya tak peduli. Begitu juga, sahabat saya tidak serta merta memaksa saya bercerita ketika dia tahu saya sedang jatuh cinta dengan seseorang. Hanya kami yang tahu cara kami menjaga dan mencintai satu sama lain.

Persahabatan itu tentang rasa. Persahabatan itu tentang simpul hati yang terikat, bukan sekedar password sosmed atau curhat dan pertemuan setiap saat. Persahabatan itu tentang doa dan harapan. Saat doa dan harapan kami selalu bertumpu pada kata saling. Saling mendoakan, saling mengingatkan, saling menguatkan,

Ya, bagi saya sahabat adalah dia yang tetap bersamamu saat kamu dalam kesulitan. Namun, dia tahu kapan membiarkanmu berjuang sendiri tuk belajar dewasa.

Inspira Studio,
22 Mei 2014
Sampai jumpa di Drini 🙂

Nona Senja

https://soundcloud.com/fiersa/nonasenja

Rembulan tak bersinar di ujung jelaga
Pandangan semakin nanar, setengah terjaga
Rindu terhalang sekat, harap yang terpatah
Kau tak hendak terikat, ringkihku terpapah

Hanya kau yang tahu caranya membuat diriku terluka
Dan hanya kau yang tahu caranya menyembuhkan hatiku
Senja tiada berjingga, terbenamkan luka
Kau mengimingi surga hanya untuk berduka

Kau pernah menjadi gemintang
Yang terpeta dan berpendar di hatiku
Mungkin masih, meski perlahan meredup
Di sudut senja kau kantungi mentari Untuk dirimu sendiri
Kau takut berjalan dalam gelap
Padahal aku takkan melepaskan genggam
Apa yang membuatmu begitu lirih
Hingga menularkan perih?
Bukankah kita bisa saling mengobati
Daripada saling meracuni?
Seperti angin topan yang sekejap
Membawaku terbang sangat tinggi
Terlalu tinggi
Seketika itu pula kau menjatuhkanku

Hanya kau yang tahu caranya membuat diriku terluka
Dan hanya kau yang tahu caranya menyembuhkan hatiku

Setelah Banda Neira, kini lagu-lagu Fiera Besari nggak henti-hentinya muter di play list saya. Lagu ini, -lagu dengan lirik paling puitis- sukses membuat saya mewek hari ini. Coba dengarkan 🙂

Memaafkanmu

Aku memafkanmu. Begitu juga aku memaafkan diriku sendiri atas keputusan yang berujung pada air mata. Seperti halnya angin yang hanya menjadi sebab atas takdir jatuhnya selembar daun. Mungkin suratmu kala itu juga hanya sebuah sebab, sebab dari skenario besar yang sudah digariskan oleh-Nya. Aku selalu meyakini bahwa tak ada peristiwa sekecil apapun yang tak sengaja terjadi. Ada skenario yang telah dituliskan oleh sang Maha Sutradara. Sedih, tawa, bahagia, tangis, hanyalah sebuah alasan Tuhan untuk membuat kita belajar. Dan sungguh, tak ada hal apapun yang kusesali atas apa yang telah aku putuskan.

Aku memaafkanmu, untuk satu windu pertemuan kita. Untuk setiap kecewa, air mata, dan janji yang belum dan tak akan pernah kau tepati. Aku tahu manusia memang hanya seorang perencana, sedang acc hanya hak Tuhan semata. Sudah aku maafkan meski tak pernah sekalipun kau merasa bersalah atas hati yang diam-diam hampir sekarat. Atau mungkin kau terlalu gengsi untuk mengakui kesalahanmu. Sudah, aku sudah memaafkanmu tanpa harus kau ucap kata maaf itu. Aku tak pernah berharap menerima ucapan maaf dan terima kasihmu-yang memang tak pernah kau ucapkan-. Aku hanya mencoba memberikan yang terbaik yang bisa aku lakukan untukmu. Meski mungkin, apa yang kulakukan bukan sesuatu yang berarti bagimu, dan memang tak berarti apapun bagimu.

Jika suatu saat aku tidak hadir di momen penting hidupmu, bukan berarti aku belum memaafkanmu. Atau aku tak menghargaimu. Aku hanya mencoba menjaga kondisi ini tetap baik-baik saja. Aku memaafkanmu dan berusaha mengikhlaskanmu. Jadi, pergilah dan selamat melanjutkan hidup barumu.

Inspira Studio
22 Mei 2014

Hujan

Ada yang ikut menitik bersama hujan malam ini
Menderas bersama luka yang masih menganga
Meniggalkan genangan di sudut yang hampir terpejam
Hingga pagi, pejam itu hanya sebuah ilusi
Perempuan itu, menjelma rintik yang terus menitik
Pada apa akan ia gantungkan rasa?
Jika setia hanya memeluk nestapa

Hujan belum reda
Meski musim telah masuk kemarau

Inspira

cropped-dsc08672.jpg
Allah selalu menempatkan kita di tempat terbaik sesuai skenario-Nya. Semenjak resmi disahkan sebagai Sarjana Sastra akhir 2013 lalu, sudah sekitar 20 lamaran saya layangkan ke berbagai instansi. Berharap ada salah satu saja yang nyangkut di perusahaan itu. Tidak hanya mengejar satu instansi atau posisi, saya melamar mulai dari posisi editor di penerbitan LKS, guru bahasa Indonesia di berbagai tingkat pendidikan, staf administrasi, hingga dosen. Dari kesekian puluh itu, ada yang berespon untuk lanjut ke interview, ada pula yang diam tanpa kabar. Dari respon interview, ada yang saya putuskan untuk tidak jadi menginginkan posisi yang ditawarkan, ada yang mereka putuskan untuk menolak saya. Saya memang santai-santai aja, tidak ngoyo dalam mencari pekerjaan. Pasalnya, secara finansial, dari hasil ngelesi privat penghasilan saya per bulan sudah lebih dari cukup. Hanya saja, saya ingin memiliki memiliki dunia baru, pengalaman baru, ilmu baru, dan hal-hal lain yang yang mungkin hanya akan saya di dapatkan ketika saya berada di lingkungan baru.

Suatu hari, ada sms dari seorang teman, “Farida, aku keterima IM, jadi harus resign dari kantor. Mau menggantikan aku nggak? Tapi harus melewati proses seperti biasa sih, tes dan interview, sudah ada beberapa pendaftar juga.”

Kita nggak tau, ikhtiar mana yang bakal berjodoh dengan takdirnya. Sehari kemudian E-mail lamaran itu sudah saya kirim. Dua hari berikutnya ada telepon untuk tes dan interview di kantor tersebut. Saya berangkat dengan ringan, dengan persiapan seadanya. Tidak terlalu berharap namun tetap berdoa. Suasana interview tidak seperti yang sudah-sudah. Saya dites dan di-interview oleh 3 orang: direktur, supervisor naskah, dan supervisor multimedia. Tidak seperti interview pada umumnya, kali ini saya lebih banyak ditanyain tentang novel dan film. Tidak banyak yang bisa saya jawab dengan memuaskan karena nyatanya bacaan saya memang masih sangat limit. Wawasan dan pengetahuan saya memang masih sangat minim. Bahkan, saya sempat ditertawakan ketika menyebut sebuah karya karya penulis t*er* L*y*. Dipenghujung interview, Pak Direktur hanya bilang, “Diterima atau tidaknya,Jumat akan ada kepastian. Nanti akan kami kabari lagi”. Baiklah, saya pulang. Sekali lagi, tidak terlalu berharap tapi tetap berdoa.

Belum juga hari Jumat, hari Rabu saya sudah di sms, disuruh ke kantor membawa ijazah, pas photo, dan foto copy KTP. Entah untuk apa, saya hanya menurut. Di kantor, pak bos (yang kemudian saya tau bernama Mas Erwin) menjelaskan beberapa poin terkait kantor dan tugas. Lalu beliau berkata, “Hari ini saya resmi terima kamu.” Alhamdulillah. Hari itu juga saya diperkenalkan dengan penghuni rumah tua yang sangat hommy ini. Tidak banyak, hanya 13 orang termasuk Pak Bos dan mas OB. Saya sudah terkesan dengan kantor ini sejak hari itu juga. Sejak mas Erwin mengenalkan saya dengan pasukan Inspira. Sejak mas Erwin menunjukkan setiap sudut kantor dan tugas yang harus saya kerjakan. Kantornya hommy dan teman-temannya friendly, Alhamdulillah. Banar kata sebuah pepatah, kalo Jodoh itu prosesnya memang akan selalu cepat dan mudah. Barangkali ini memang jodoh kerjaan saya saat ini.

Saat ini mungkin inspira memang jodoh saya, meski saya tetap berusaha untuk mendapatkan jodoh yang lebih baik. Saya hanya mencoba melakukan yang terbaik yang bisa saya lakukan di mana pun saya berada. Jika saatnya nanti Allah mempercayakan tempat yang lebih baik, paling tidak saya siap. Dua bulan ini, Inspira menjadi warna tersendiri bagi saya. Nuansa dan sistem kerja yang sangat menyenangkan membuat saya tidak pernah merasa berat saat harus bangun pagi dan bergegas ke kantor. Meski terkadang harus lembur dan pulang malam, tapi saya enjoy dan menikmati pekerjaan saya. Lebih dari 20 lamaran yang sudah terlayangkan sebelumnya mungkin memang bukan jodoh saya. Allah tahu dan (selalu) memberi yang terbaik untuk kita. Begitu juga, delapan tahun yang ternyata tak berujung pada sebuah akad, sungguh Allah tahu dan (selalu) memberi yang terbaik untuk kita.

Inspira Studio, 19 Mei 2014

Banda Neira

Beberapa hari yang lalu, temen kantor (Red: Mb Diah), memberikan link Sound Cloud sebuah band bernama Banda Neira. Itu kali pertama aku mendengar nama band Banda Neira. Sangat tidak familiar di telingaku. Dengan sekali klik, dari headset-ku mulai mengalun lagu dari band tersebut. Kesan pertama, easy listener alias enak banget didengerin.

Karena mulai tertarik, aku mencari tahu tahu tentang band ini. Ternyata, Banda Neira adalah proyek iseng Rara Sekar & Ananda Badudu. Dulu ketika tinggal di Jakarta Rara Sekar adalah aktivis Hak Azasi Manusia di LSM Kontras. Kini ia hijrah ke Bali dan jadi pegiat sosial di organisasi nonprofit Kopernik. Kerjaannya, membagikan teknologi tepat guna untuk memberdayakan masyarakat di berbagai tempat. Sementara Ananda Badudu, dulu, kini, dan nanti adalah wartawan harian di Tempo. Kerjaannya setiap hari keliling Jakarta mencari berita.

Mungkin karena penat dan melelahkannya ritme hidup di Jakarta, mereka merasa membutuhkan selingan yang menghibur diri. Banda Neira inilah yang menjadi hasilnya. Formatnya sederhana saja, dua orang dan satu gitar. Kadang ada xylophone yang nyempil, atau impersonisasi terompet, karena tak punya alat sesungguhnya. Meski formatnya dua orang, mereka menolak disebut duo, inginnya disebut band. Tak tahu pasti apa maksudnya.

Band ini terbentuk pada akhir Februari 2012, dengan konsep dan latihan yang sangat sederhana. Sesederhana jargon mereka: Proyek iseng. Menariknya, tak disangka proyek iseng ini berlanjut terus. Pada suatu hari, sebelum Rara Sekar hijrah ke Bali, keduanya nekat menyewa studio Aru untuk merekam empat lagu yang mereka punya. Jadilah album EP (Extended Play) yang di kemudian hari dinamakan “Di Paruh Waktu”. Karena lirik lagu Banda Neira kebanyakan nelangsa, maka disebutlah genrenya nelangsa pop.

Nama Banda Neira sebenarnya adalah nama pulau yang berada di Maluku, bagian Timur Indonesia. Pada masa perjuangan kemerdekaan, beberapa pejuang dan bapak penemu bangsa sempat dibuang oleh Belanda ke sana, di antaranya Sjahrir dan Hatta. Banyak cerita menarik yang ditulis Sjahrir tentang Banda Neira. Dari catatan hariannya, orang bisa tahu ia tak merasa seperti orang buangan ketika diasingkan ke sana. Barangkali karena pulaunya luar biasa indah dan masyarakatnya menarik. Sementara Hatta sibuk baca buku, Sjahrir asik bermain dan mengajar anak-anak setempat. ”Di sini benar-benar sebuah firdaus”, tulis Sjahrir di awal Juni 1936. Dari pulau dan cerita inilah kira-kira nama band ini diambil.

Salah satu lagu yang sering menggaung dari play list-ku adalah lagu berjudul “Berjalan Lebih jauh”. Easy Listener. Lagu ini sedikit menyindir kebiasaan tidurku seusai shalat dan tilawah Shubuh. Pagi ini, ditemani Banda Neira, aku memilih Jogging bersama Ibu. Ya, Pagi memang terlalu berharga tuk kita lewati dengan tertidur.

Berjalan Lebih Jauh

Bangun,
Sebab pagi terlalu berharga
Tuk kita lewati
Dengan tertidur

Bangun,
Sebab hari terlalu berharga
Tuk kita lalui dengan
Bersungut-sungut

Berjalan lebih jauh
Menyelam lebih dalam
Jelajah semua warna
Bersama, bersama

Bangun,
Sebab hidup teramat berharga
Dan kita jalani
Jangan menyerah

Berjalan lebih jauh
Menyelam lebih dalam
Jelajah semua warna
Bersama, bersama, bersama

Yang ingin mencoba mendengarkan lagunya, silahkan klik https://soundcloud.com/bandaneira. Selamat mendengarkan 🙂

Libur Panjang,
Kamis, 16 Juni 2014

Meretas Cinta hingga Ujung Senja

sumber gambar: fiksikulo.wordpress.com

sumber gambar: fiksikulo.wordpress.com


Dalam moment pernikahan, kita sering mendengar doa-doa yang bergema untuk sang mempelai, di antaranya ‘semoga langgeng hingga maut memisahkan’ atau ‘semoga langgeng hingga kakek-nenek’. Saya sering berpikir, doa-doa itu memang layak dihaturkan untuk kedua mempelai. Bagaimana tidak? Bukankah pernikahan adalah sesuatu yang agung? Sesuatu yang bahkan disebut sebagai penyempurna setengah agama. Maka, menikah adalah satu keputusan besar yang konsekuensinya bukan hanya di dunia semata tapi juga hingga kelak di akhirat-Nya. Allah sendiri menyebutkan pernikahan sebagai Mitstaqan Ghalidza, perjanjian yang berat. Mengarungi kehidupan dengan segala hitam putihnya bersama seseorang teman hidup yang dipilih, bisa jadi tak akan selalu seindah dan semulus yang kita rencanakan, apalagi seindah yang kita bayangkan. Dalam prosesnya, doa yang menggaung pada saat akad atau resepsi pernikahan ‘semoga langgeng hingga kakek-nenek’ atau ‘semoga langgeng hingga maut memisahkan’ tak selalu bisa digapai oleh pasangan yang menikah. Beruntung, saya menjadi saksi dan bisa meneladani romansa cinta pasangan yang terus meretas cintanya hingga ujung senja, hingga ujung usia.

Ialah Achyani dan Kamirah, sepasang suami istri yang telah lanjut usia, yang masing-masing berusia 77 tahun dan 73 tahun. Keduanya adalah orang tua dari ibu saya, yang biasa saya panggil dengan sebutan Mbah Kung dan Mbah Uti. Simbah saya sebenarnya memiliki sepuluh orang anak, namun 2 putrinya meninggal ketika masih kecil. Dari kedelapan anak simbah yang masih ada, ibu saya adalah anak kedua. Jadi, saya memiliki seorang budhe, seorang bulik, dan lima orang om yang ganteng-ganteng.

Mbah Kung dan Mbah Uti saya ini adalah pasangan yang tetap romantis hingga usia lanjut. Sebuah cerita dikisahkan oleh sahabat simbah ketika masih muda, Mbah Kung saya sejak muda hanya pernah jatuh cinta pada Mbah Uti saya. Mbah Kung saya bahkan tidak pernah mau memboncengkan wanita lain (yang bukan saudaranya) selain Mbah Uti. Masih menurut cerita sahabatnya simbah ini, katanya beliau sering menjadi ‘tukang pos’ yang mengantar pertukaran surat antara Mbah Uti dan Mbah Kung saya.

Bagi saya, kedua simbah saya ini adalah orang begitu luar biasa. Mbah Kung saya masih menjadi imam masjid di usianya yang sudah 77 tahun. Beliau masih mau menjadi guru tafsir Al Qur’an -yang hingga hari ini belum ada yang berani menggantikan beliau-. Mbah Kung saya, yang meski harus menelan begitu banyak obat setiap harinya, tapi ia tergolong lansia yang sehat dan aktif. Di usia 77 tahun ini beliau masih terbiasa kontrol kesehatan dengan bersepeda sendirian ke Rumah Sakit Daerah Sukoharjo (sekitar 13 km dari rumah) atau ke RSUD Moewardi (sekitar 15 km dari rumah), atau sekedar bersepeda ke Pasar Gawok membeli peralatan yang beliau butuhkan.

Mbah Kung saya tak pernah absen bangun pukul setengah 3 pagi, melaksanakan sholat tahujud dan sembahyang malam lalu melanjutkan tilawah hingga subuh. Pulang dari subuhan di masjid, beliau menyalakan televisi dan menonton berita sampai pukul 6 pagi. Setelah itu, beliau bekerja di kebun. Selalu saja ada yang beliau kerjakan, membuat lincak, mencari rebung, mengurus palawija-nya, membersihkan kos-kosan, dan lain sebagainya. Beliau benar-benar bukan tipe orang yang terlena dengan masa tuanya lalu memilih untuk santai-santai saja di rumah. Mbah Kung saya adalah orang tua yang hingga di usianya yang sudah sesenja ini selalu berfikir tidak ingin merepotkan anak-anaknya. Selagi beliau bisa melakukan sendiri maka beliau memilih untuk tidak meminta tolong kepada anak atau cucunya.

Mbah Kung saya punya kebiasaan mengedarkan amplop untuk semua cucu dan buyutnya setiap awal bulan. Isinya memang tak banyak, hanya lima ribu rupiah setiap amplop. Saya pun masih mendapat jatah ini di awal bulan. Saya sempat menolak, namun Mbah Kung masih bersikeras ‘menjatah’. Alasannya, sebelum menikah maka saya masih anak kecil yang mendapat jatah bulanan-nya. Alhamdulillah, bukan jumlahnya, namun berkahnya, begitu kata Mbah Kung.

Tak kalah aktifnya dengan Mbah Kung, Mbah Uti saya, (mungkin) adalah seseorang yang di dalamnya mengalir darah aktivis sejati. Sejak muda, Mbah Uti adalah aktivis, beliau terlibat aktif di beberapa organisasi dakwah. Beliau pernah beberapa periode menjabat sebagai ketua Aisyiyah Daerah Sukoharjo. Beliau juga guru TK yang selalu bersemangat. Bahkan, ketika sudah pensiun, beliau masih mengabdikan diri di TK Aisyiyah 2 Grogol, yang saat itu hampir ditutup karena minimnya kepercayaan dari wali murid. Sejak muda beliau menghidupkan berbagai kajian dan aktivitas dakwah lainnya. Dan kini, di usianya yang sudah 73 tahun, beliau masih aktif di kegiatan kemasyarakatan. Beliau masih rutin datang ke PKK, berbagai kajian ibu-ibu (bahkan beliau masih menjabat sebagai kordinator di salah satu kajian), masih menjadi pengurus Aisyiyah, masih menjadi pengurus dan aktif membantu menggalang donatur untuk Panti Asuhan Yatim Putri Muhammadiyah. Mbah Uti saya ini, seperti halnya Mbah Kung, setiap awal bulan juga selalu membagi rizki pensiunannya kepada cucu dan semua buyutnya. Bedanya, Mbah Uti memberikan jumlah uang yang berbeda, kisaran sepuluh sampai lima puluh ribu, sesuai usia (yang beliau asumsikan semakin besar, semakin banyak kebutuhannya). Sekali lagi, bukan jumlah uangnya tapi berkahnya. Yang bikin saya makjleb adalah Mbah Uti selalu berdoa agar Allah memberikan umur panjang sehingga akan terus bisa memberikan kebermanfaatan bagi orang lain.

Di usia senja ini, kedua mbah saya tersebut memiliki kesibukan baru, yaitu mengurus kos-kosan. Dua tahun yang lalu, beliau membangun kos-kosan di sepetak tanah yang masih dimiliki, ada 7 kamar. Beruntunglah, orang-orang yang ngekos di kosan simbah saya. Setiap pagi Mbah Uti dan Mbah Kung membersihkan kos-an, nyapu, ngepel, membersihkan rerumputan. Setiap ada kerusakan sedikit saja, beliau langsung menggantinya. Jika ada acara di rumah (rapat, pengajian, syukuran) atau habis bepergian dari suatu tempat, mbah tak pernah lupa mengirim makananan atau oleh-oleh untuk anak kos-nya. Ya, mbah saya terkesan memanjakan anak-anak kos-nya. Beliau pun menggampangkan urusan pembayaran. Ini pula yang menyebabkan beberapa kali ada yang tega menipu beliau. Bukan hanya sekali dua kali ada anak kos yang pergi tanpa pamit, tanpa membayar uang kos yang sudah jatuh tempo. Bahkan pernah ada penghuni kos yang tidak membayar kos, justru meminjam uang ke simbah, dan kabur membawa tivi yang ada di kos-an. Pernah pula, ada seorang penghuni yang susah sekali ditemuin, mbah sampai bingung mau menagih uang kos. Nah, ternyata si penghuni ini memang dalam kondisi yang ‘memprihatinkan’. Maka ketika ia pamit meninggalkan kos, mbah saya justru memberikan uang saku kepadanya (padahal sudah dua bulan orang ini tidak membayar kosan). Begitulah mbah saya, meski kerap kali juga merasa sebal dengan anak-anak kosnya namun beliau selalu memiliki rasa kemanusiaan yang tinggi. Beliau selalu berbuat baik, sebaik yang beliau bisa lakukan. Beliau selalu berharap dan berdoa, semoga kebaikan dan kemudahan yang beliau lakukan akan berdampak balik ke keluarganya. Semoga anak, cucu, dan seluruh keluarganya akan selalu mendapat kebaikan dan kemudahan dari-Nya sebab beliau selalu berusaha memudahkan urusan orang lain.

Bicara tentang keromantisan yang saya singgung di awal, mbah saya, Mbah Kung dan Mbah Uti adalah pasangan yang sangat romantis. Saat Mbah Uti sakit, Mbah Kung akan dengan setia menemani Mbah Putri di samping ranjang, sekedar memijit atau memegang tangannya. Mbah Kung akan dengan senang hati menggantikan tugas Mbah Uti mencuci, menyapu, bahkan mengambil alih semua tugas membersihkan kos. Beberapa minggu yang lalu, ketika Mbah Uti harus masuk rumah sakit karena radang empedu, Mbah Kung berniat menyusul ke RSUD Moewaardi dengan sepeda ontel tuanya tepat setelah subuh. Mbah Uti yang dirawat di rumah sakit pun tak henti-hentinya menanyakan apakah sudah ada yang menyiapkan makan untuk Mbah Kung di rumah. Di tengah rasa sakitnya, Mbah Uti masih mengingatkan anak-anaknya untuk tidak lupa menyiapkan sahur dan buka untuk Mbah Kung saat hari senin dan kamis. Mbah Kung selalu menolak ketika ada anak-anak atau cucunya yang ingin menggantikan tugas beliau, “aku jik isoh, sok wae nek aq wis raisoh” begitu kata simbah.

Mbah Uti, setiap kali sakit dan harus opname di rumah sakit,beliau selalu berpamitan dengan Mbah Kung untuk mengikhlaskannya jika ia harus dipanggil oleh-Nya. Mbah Uti pun akan selalu bilang kepada anak-anaknya, bahwa Mbah Kung adalah belahan jiwa yang telah menamaninya selama lebih dari setengah abad.

Suatu hari, saat Mbah Uti opname di rumah sakit, Mbah Kung menjenguk ke RS diantar oleh salah seorang om saya. Ketika beliau akan pulang dan sudah tiba di pintu keluar, beliau kembali lagi ke menemui Mbah Putri hanya untuk bilang “Ora sah mikir pitik karo kos-kosan, uwis tak urus kabehh”. begitu katanya.

Bagi keduanya, ada sebuah keinginan dan kerinduan yang sudah lama terpupuk, sebuah penantian yang panjang yang terus beliau usahakan untuk bisa mengunjungi rumah Allah. Di usia 70-an inilah simbah saya berkesempatan menyempurnakan rukun Islam. Tahun lalu ketika Mbah Uti dan Mbah Kung menunaikan ibadah Haji, beliau berdua sempat hilang di Arab dan kehilangan sejumlah uang, bahkan sempat di rawat di rumah sakit. Alhamdulillah, Allah masih menjaga keduanya.

Kedua simbah saya sama-sama sudah mengalami penurunan fungsi pendengaran sehingga seringkali terlihat seperti bertengkar saat berkomunikasi. Namun, sebenarnya mereka tengah menunjukkan cinta dengan gaya mereka. Saya menyebutnya dengan cinta di ujung senja. Nggak ada yang tahu Allah akan memberi garis finish hingga usia berapa kepada kedua simbah saya ini, namun di usia yang semakin menua ini, cinta mereka tetap terjaga dan semakin bersahaja di mata yang muda. Saya berdoa, semoga entah dengan siapa Allah akan menakdirkan saya nanti, saya akan bisa meneladani kehidupan Mbah Kung dan Mbah Uti, meretas cinta hingga ujung senja.

Dan, yang terpenting bukan sekedar menjaga dan membina hubungan pernikahan langgeng hingga kakek-nenek atau langgeng hingga maut memisahkan. Poin utamanya adalah bagaimana pernikahan bisa menjadi sarana bagi kita untuk beribadah dan meraih cinta-Nya. Saat teman hidup yang kita pilih bukan sekedar berstatus sebagai suami atau istri, tapi pasangan yang kita pilih adalah mitra taat kita, hingga setiap ikhtiar yang kita lakukan dalam mengarungi bahtera rumah tangga akan berujung pada satu rumah: Jannah.

250414, Kantor, 14.51